Mletik Pager

Oleh Singgih S Kartono, desa-iner, founder Spedagi Movement & Murakabi Movement

“Kehidupan lama yang lebih seimbang menjadi inspirasi arah masa depan. Prototype peradaban barupun mulai menampakkan wujudnya, ketika nilai-nilai lama muncul kembali dalam wujud baru dan hal-hal yang berlawanan kemudian berkawan”

“Bangsa-bangsa yang sedang/belum berkembang memiliki kesempatan untuk langsung menuju ke era baru, mereka berada dekat masa depan, namun selama ini melihatnya sebagai masa lalu”

Cyral-Spiriterial. Spedagi Movement

Simbok

2020 sebenarnya merupakan tahun dengan angka indah dan langka. Namun 2020 ini sungguh nyolong pethek. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu pandemi terbesar dalam sejarah umat manusia. Beberapa pihak sesungguhnya telah memberikan peringatan tentang kemungkinan munculnya pandemi besar, namun sayangnya mereka tidak bisa meramalkan angka tahunnya dengan tepat. Angka-angka dalam 2020 jika dijumlahkan ternyata menghasilkan angka 4, angka yang dalam budaya China menjadi simbol kematian/kesialan, dan koq ya mbeneri pandemi ini berawal dari kejadian di sebuah kota di China, negara yang perekonomiannya lagi moncer….

Othak-athik kalau bisa gathuk memang mengasyikkan, namun mungkin bukan sebuah kebetulan di tahun 2020 ini pandemi mendera dunia. Laju kehidupan yang tengah melesat cepat tiba-tiba harus mandheg greg. Desain kehidupan ala industri sekarang ini memang ibarat sebuah kendaraan yang tenaganya terus ditambah, ukurannya diperbesar, namun lupa memasang rem. Ketika ada sesuatu yang besar melintas di depan, braaaak… remuk! Terutama di “kabin” bagian depan, yaitu wilayah perkotaan, kegiatan berhenti, perekonomian mrotholi. Desa yang memang selama ini ada di belakang, walaupun terkena dampak, sepertinya mung mlecet-mlecet. Ribuan orang desa yang selama ini boro dan glidhik di kota, kemudian memilih kembali ke desa, karena di kota tidak ada pekerjaan dan pendapatan. Di India ratusan ribu orang-orang yang selama ini tinggal dan bekerja di kota, memilih untuk kembali ke desa, meskipun harus berjalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer, karena sarana transportasi  dihentikan. Mereka pulang ke desa karena di desa meskipun kehidupan sederhana, pangan tersedia, tempat tinggalpun tidak perlu membayar sewa. Keluarga dan warga siap sedia untuk saling membantu dalam menghadapi kesusahan bersama.

Desa kembali muncul seperti sosok simbok yang dengan ati semeleh menyambut putra-putrinya yang sedang kesusahan kembali. Namun sebenarnya simbok (=desa) ini sudah tidak sekuat dulu lagi. Urbanisasi telah menggerogoti kekuatannya. Sementara itu telah mengintip sejak lama bencana global yang lebih mengerikan yaitu bencana yang diakibatkan perubahan iklim. Perubahan iklim sekarang ini telah menyulitkan petani menggunakan pranata mangsa, jika kemudian berkembang menjadi ekstrim desa dipastikan akan kehilang kemampuannya untuk menghasilkan pangan. Urbanisasi dan climate change keduanya bersumber dari asal yang sama, yaitu industrialisasi dan negara kita serta negara-negara belum/sedang berkembang lainnya justru sedang menggebu mengejar predikat negara industri. Adakah pilihan lain menjadi maju dan sejahtera tanpa harus menjadi negara Industri terlebih dahulu? Jawaban ini akan menjadi penentu apakah kemerdekaan pangan, sandang dan papan bagi desa bisa diwujudkan atau tidak.

Nuwun sewu, sembrono saya akan menjawabnya dengan sebuah konsep pemikiran yang saya susun sendiri yang saya namakan Cyral-Spiriterial. Cyral dari kata City+Rural, sebagai pegiat desa memang mestinya saya mendahulukan desa (rural), tapi koq jadinya “Rulty” atau “Ralcy” rasanya kurang sedep dan wagu, yo wis saya pakai Cyral saja. Spiriterial berasal dari Spiritual+Material. Cyral-Spiriterial ini sebuah era setelah era industri, ketika dikotomi dalam bagai aspek kehidupan kemudian melebur membentuk  tatanan nilai-nilai baru. Oya, pemikiran yang saya susun ini bukan hasil riset akademis. Saya hanya seorang “desa-iner”, desainer yang tinggal dan bekerja di desa dan menjadikan desa sebagai pijakan berpikir dan berkarya. Sebagai orang yang berjiwa bebas, saya memahami ilmu desain sebagai ilmu dasar yang sebenarnya juga kita temukan dalam hampir semua disiplin ilmu lain. Desain ini ilmu yang saya suka karena kreativitas dan imajinasi menjadi salah satu pilar utamanya. Dan menariknya ketika di eja ulangpun,  kita bisa menemukan Desa dan In (-donesia) disana, demikian juga kata Indonesia, saya menemukan kata “desa” dan “desain” disana. Dalam menyusun pemikiran ini saya juga tidak menggunakan metodologi ilmu sosial maupun ekonomi. Saya menenerapkan metoda design thinking, itupun saya pakai secara awangan saja. Metode ndeso “othak-athik gathuk” jujur saja paling banyak saya pakai, semoga setelah diteliti para ahli nanti memang gathuk.

Cyral-Spiriterial

Cyral Spiriterial adalah sebuah skenario yang saya susun untuk menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sedang terjadi  dan apa yang seharusnya kita (: masyarakat dunia) lakukan jika kita ingin mewujudkan cita-cita keberlanjutan kehidupan global. Satu fenomena penting yang sering kita tidak sadari adalah fenomena disorientasi, yaitu kondisi kehilangan orientasi ketika kita diterpa arus informasi dan perubahan-perubahan yang berlangsung sangat cepat tanpa kita bisa menghindar. Oleh karena itu menemukan “peta besar” adalah sesuatu yang penting kita lakukan, agar kita bisa terbebas dari situasi diorientasi dan bisa melihat dengan jelas dimana kita berada, kemana arus besar menuju dan sebaiknya kita mesti gimana, kemana dan lewat apa. Cyral-Spiriterial adalah sebuah “peta besar” yang saya coba susun untuk membantu kita terbebas dari situasi terdisorientasi sebagai individu, bangsa Indonesia dan umat dunia.

Pergeseran peradaban manusia sesungguhnya bukan hanya gerak linier ke depan, namun juga pergeseran vertikal spiritual-material. Situasi yang tidak seimbang akibat dominasi sisi spiritual maupun sisi material mendorong manusia mencari keseimbangan baru. Era Industri telah menyeret kehidupan ke dasar jurang materialisme dengan dampak kerusakan alam dalam skala global dan munculnya kekosongan batin. Kehidupan lama (tradisional) yang lebih seimbang menjadi inspirasi arah masa depan. Prototype peradaban barupun mulai menampakkan wujudnya, ketika nilai-nilai lama muncul kembali dalam wujud baru dan hal-hal yang berlawanan kemudian berkawan.

Negara-negara maju tidak lagi bergerak ke industri tahap lanjut, namun menapak era baru Era Pasca Industrial. Titik pergeseran ini  sesungguhnya merupakan momentum yang sangat baik untuk mewujudkan kebersamaan dan gotong royong global yang menjadi prasyarat pewujudan cita-cita keberlanjutan kehidupan di bumi. Bangsa-bangsa yang sedang/belum berkembang memiliki kesempatan untuk langsung menuju ke era baru, mereka berada dekat masa depan, namun selama ini melihatnya sebagai masa lalu. Negara-negara maju seharusnya membantu negara-negara sedang berkembang untuk bisa melihatnya sebagai masa depan dan mengajak untuk bersama-sama menuju era baru, era Pasca Industrial, era Cyral-Spiriterial.

————————————————————————————————————————————-

Cyral : Cyral ini menjelaskan fenomena desa yang mengadopsi hal-hal baik dari kota (teknologi, sistem informasi dll) dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur kedesaanya, juga fenomena kota yang mengadopsi hal-hal baik dari desa untuk membuat kehidupan di kota menjadi lebih sehat dan seimbang. Fenomena Cyral tidak bisa diwujudkan ketika kota masih over populasi demikian juga sebaliknya ketika desa masih  mengalami depopulasi dalam jumlah maupun kualitas SDM.

Spiriterial : ketika nilai-nilai spiritual ndhelik dalam aktivitas keseharian. Sistem pemilahan sampah yang detail di Jepang sesungguhnya adalah ritual khusyuk menjaga kelestarian alam. Masyarakat tradisional yang selalu memiliki ritual upacara dalam setiap aktivitas kesehariannya sesungguhnya adalah juga masyarakat spiriterial.

Socent : singkatan dari Social Enterprise atau Wirausaha Sosial, koyone iki wis podho ngerti.

Gommunity : gabungan dari kata Government dan Community, yaitu sebuah situasi ketika pemerintah memiliki kesadaran pentingnya peran komunitas (semua pemangku kepentingan di luar pemerintah) dan melibatkannya dalam proses pembangunan dari sejak  pemetaan, perencanaan dan pelaksanaan.

Humture : gabungan dari Human dan Nature, koreksi dalam era sebelumnya yang menempatkan manusia sebagai pusat peradaban yang berakibat pada kerusakan alam dan manusia itu sendiri.

Cohelp : karena saya tidak menemukan padanan kata “gotong royong” dalam Bahasa Inggris, saya buat saja kata baru “Cohelp”. Menurut saya gotong royong ini tingkatannya lebih tinggi dari collab/collaboration, karena di dalam gotong royong sudah tidak ada unsur transaksional, adanya semangat saling membantu, tulung-tinulung. Gradasinya compete (bersaing), collab (bekerjasama) dan Cohelp (saling membantu).

————————————————————————————————————————————-

Mletik Pager yuuuk!

Melihat “peta besar” di atas, semestinya secepat mungkin bangsa kita mengubah haluan pembangunan. Kebijakan pembangunan yang bertujuan untuk meraih predikat negara industri sesungguhnya merupakan gambaran tentang fenomena disorientasi yang menginfeksi para perumus kebijakan pembangunan nasional. Kita perlu secepatnya mletik pager, atau kalau samar kecangkol, kita hanya perlu menemukan exit gate untuk keluar dari jalur jalan toll industrial. Kita perlu segera keluar, karena jalur toll meskipun lurus dan mulus serta okeh barengane nyata-nyata menuju arah yang keliru, jare pengin merdeka pangan, sandang lan papan … Mengambil jalan yang berbeda ini sebenarnya bukan memilih jalan yang lebih sulit, namun sebaliknya jalur yang jauh lebih pendek,  meskipun barangkali memang harus liwat galengan sawah dan nyabrang kali.

Masa depan yang dituju oleh bangsa-bangsa maju sesungguhnya sama dengan banyak hal yang masih ada dalam kehidupan kita. Kita bahkan ibaratnya tidak perlu jalan jauh, kita cukup membalikkan badan dan kita akan menemukan masa depan ada disana. Kita memang perlu cuci muka, ucek-ucek mata dulu atau menggunakan kacamata baru untuk bisa melihatnya dengan cara berbeda. Saya bisa melihat papringan (kebun bambu) yang lembab, gelap, banyak nyamuk dan jadi tempat sampah warga sebagai taman bambu yang indah, karena saya melihatnya dengan mindset yang berbeda. Dan papringan-pun kemudian mewujud menjadi Pasar Papringan.

Untuk menjadi bangsa yang maju, tidak harus menjadi magrong-magrong seperti mereka. Pasar Papringan merupakan sebuah contoh bagaimana kita bisa menjadi setara dengan bangsa maju dengan apa yang desa miliki. Pasar Papringan adalah plastic free market karena orang desa dulu memang ecofriendly. Lembaran daun pisang dan keranjang bambu untuk kemasan dan wadah belanja dihasilkan disana.  Makanan ndeso yang dijualpun sehat karena bebas dari bahan tambahan industri dan juga glutten free. Alam desa kaya dengan bahan-bahan yang bisa membuat sedap makanan dan pewarna alam yang membuat makanan tampil menarik. Ketiadaan tepung terigu karena gandum memang bukan tanaman lokal lah yang kemudian melahirkan produk glutten free, onone mung telo yo gaweyo soko telo. 

Pakdhe Ezio

Demikian juga mestinya dengan Indonesia yang memiliki 74.954 desa, kita harus mulai dengan aset terbesar yang ada dan memiliki akar kuat di kita yaitu desa. Hampir semua negara di dunia ini awalnya adalah negara desa, dan kini sebagian warga dari negara-negara maju mulai bisa melihat masa depan sesungguhnya ada di wilayah pedesaan. Adalah Ezio Manzini, seorang desainer dan aktivis Design for Social Innovation dari Italy. Berdasarkan riset atas berbagai aktivitas baru, terutama dilakukan oleh anak-anak muda diberbagai belahan dunia, dia menyusun SLOC Scenario. SLOC adalah singkatan dari Small, Local, Open, Connected. Dia melihat kecenderungan bahwa ke depan orang akan memilih tinggal di komunitas Small, memenuhi kebutuhan hidup dari sumber-sumber Local, namun dalam komunitas yang Open dan global Connected. Waaaa ini dia! (demikian girang saya waktu mengenal konsep ini)  Bukankah itu rumusan menarik tentang desa masa depan?

Saya pun mulai mulai mengotak-atiknya dengan metodologi andalan saya otak-atik gathuk. Akhirnya saya bisa merunut dan mengurutkannya ke dua era ke belakang.  Di Era Industri, saya menemukan Big, Global, Open, Connected, dan di Era Pra Industri kembali menjadi Small, Local namun Closed dan Isolated. Era Industri dengan berbagai penemuan teknologi telah membuka ketertutupan dan keterisolasian desa-desa, meskipun waktu itu juga dibarengi dengan arus urbanisasi yang memberikan dampak negatif ke desa-desa. Namun, teknologi informasi dan komunikasi pula yang kemudian memberikan peluang untuk tinggal dan berkarya di pelosok desa ketika kehidupan kota telah dirasakan sudah tidak manusiawi lagi. Pemikiran Pakdhe Ezio ini yang menjadi pemantik awal penyusunan konsep Cyral-Spiriterial, selain tentu saja pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat atas eksperimentasi kembali tinggal dan berkarya di desa yang kemudian melahirkan Spedagi Movement, Gerakan Revitalisasi Desa dengan pendekatan kreatif.

The Purpose Generation

Revitalisasi Desa merupakan salah satu langkah strategis dan mendasar, karena desa-desa yang terdegradasi selama Era Industri sesungguhnya merupakan sumber dari hampir semua permasalahan dunia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan orang tinggal dimana saja, sehingga desa maju-sejahtera, mandiri-lestari akan membantu mewujudkan keseimbangan  desa-kota (Cyral). Lahirnya “The Purpose Generation” sekarang ini sebuah indikator nyata fenomena Spiriterial. Revitalisasi Desa yang digerakkan generasi ini akan membawa kehidupan global menuju era Cyral-Spiriterial dimana cita-cita keberlanjutan kehidupan memiliki harapan besar  untuk diwujudkan.

Cyral-Spiriterial Sustainable Life Visions (CSSLV)

Nuwun sewu  ini pembahasan koq malah kemana-mana, namun daripada penasaran dengan tulisan “CSSLV” pada diagram Cyral-Spiriterial di atas tadi, saya perlu menuliskannya disini. Saya sendiri melihat permasalahan kemerdekaan pangan, sandang dan papan di desa itu tidak hanya urusan di desa, namun juga urusan negara dan masyarakat dunia. Kita semua tahu, bangsa kita terpaksa harus mengkonsumsi makanan rakyat tempe dan tahu, namun kedelainya diimpor dari Amerika Serikat. Bukan sekedar kedelai lho, namun kedelai GMO. Kedelai lokal yang ukurannya tidak seragam, namun lebih sehat dan lebih enak menjadi lebih mahal dan lebih susah diperoleh, kalah telak dengan kedelai impor yang ukurannya seragam, mulus dan mlenuk-mlenuk. Ada hal-hal yang mendasar yang perlu dicermati dan rumuskan ulang. Sustainable Development Goals (SDGs), sebuah program global untuk mewujudkan keberlanjutan kehidupan -yang menurut saya prasyarat dasarnya adalah kebersamaan dan kesetaraan bangsa-bangsa di dunia- pun disusun oleh lembaga internasional yang didalamnya unsur kesetaraan menjadi pertanyaan besar dengan tetap adanya 5 negara pemegang hak veto. Menurut saya, masyarakat dunia membutuhkan visi baru agar kita benar-benar bisa mewujudkan keberlanjutan kehidupan global.

  1. Tumbuhnya kesadaran peran utama manusia -mahluk paling cerdas di muka bumi ini- sebagai pemelihara dan penjaga alam.
  2. Terjaganya jumlah populasi manusia dalam kapasitas daya dukung alam,
  3. Terciptanya sistem ekonomi, politik, sosial dan hukum baru yang mensejahterakan manusia dan alam secara simultan,
  4. Terjaganya pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam koridor kesejahteraan manusia dan alam,
  5. Terciptanya hubungan internasional yang didasarkan pada prinsip kesetaraan, keberagaman, persaudaraan dan kegotongroyongan global.

Merdeka Pangan, Sandang, Papan.

PR-nya ternyata banyak, namun yang paling penting adalah arahnya sudah benar. Hal ini akan menjadi bekal atau landasan yang sangat baik dalam merumuskan kebijakan dan program. Dalam situasi sekarang ini, saya kira mustahil meraih kemandirian desa seperti masyarakat adat Baduy Dalam dimana 100% kebutuhan bisa dipenuhi dengan bahan dan aktivitas produksi lokal. Mungkin masyarakat adat Ciptagelar di Sukabumi bisa menjadi rujukan yang lebih tepat. Masyarakat adat ini meskipun kuat menjaga nilai-nilai dan aturan-aturan adatnya, namun cukup terbuka dengan dunia luar dan juga teknologi baru, sehingga mereka bisa dikatakan sebuah komunitas yang maju sejahtera mandiri lestari. Larangan memperjualbelikan beras menurut saya bukan saja cerdas dan orisinal, namun nyata menyelesaikan masalah. Apakah kita punya keberanian dan cukup pede menerapkan sistem ekonomi ndeso ini? Saya kira kita perlu terus menumbuhkan rasa percaya diri untuk menggali pengetahuan lokal-ndeso dan punya keberanian memadukannya dengan pengetahuan modern yang ada saat ini.

Dalam konsep Cyral-Spiriterial kemandirian itu tidak bisa dipisahkan dengan konsep kebersamaan dan kegotongroyongan, bukan hanya internal komunitas, namun secara horizontal dengan komunitas desa lainnya, secara vertikal dengan struktur komunitas/jenjang pemerintahan di atasnya. Posisi yang di atas adalah ngemong dan melayani struktur di bawahnya dan semakin ke atas kebijakan dan program semakin makro, semakin ke bawah semakin detail. Aturan detail mestinya dirumuskan oleh masyarakat lokal.  Oleh karena itu konsep kemerdekaan atau kemandirian pangan, sandang dan papan yang paling realistis tidak diletakkan di tingkat desa, namun di tingkat Kabupaten. Itupun dengan prosentase, misal untuk kemandirian pangan bisa sampai 100%, sandang mungkin hanya 50% demikian juga papan 50%. Prinsip dasarnya adalah lokalitas, jadi mengoptimalkan sumber-sumber lokal dan memprioritaskan kebutuhan lokal. Setelah kebutuhan lokal terpenuhi, baru kemudian mensuplai kebutuhan tempat lain. Ekonomi industri karena orientasinya pertumbuhan dan profit sebanyak-banyaknya, sering terjadi mereka sibuk memenuhi kebutuhan luar, untuk tetangga sekitar justru mereka memenuhinya dengan membeli dari sumber di luar desa mereka. Konsep dari Murakabi Movement sebuah kerja gotong-royong para seniman, desainer, arsitek, pegiat pangan lokal, dan pegiat koperasi kontemporer di bawah ini mungkin bisa menjadi trigger pemikiran. Murakabi Movement mendefinisikan diri sebagai Gerakan kreatif berasaskan gotong royong untuk mewujudkan kelestarian kehidupan dengan menjadikan lokalitas dan kemandirian sebagai pijakan. Saat ini Murakabi sedang dalam proses pendirian Warung Murakabi di sebuah dusun di Kecamatan Minggir – Yogyakarta. Warung yang secara kelembagaan akan berbentuk koperasi ini diharapkan menjadi benih bagi tumbuh dan kukuhnya perekonomian lokal.

Gommunity

Salah satu lembaga penting yang perlu didirikan di daerah adalah Lembaga Riset dan Pengembangan Daerah (Risbangda) yang bersifat Independen, namun dalam bentuk lembaga gotong royong (gommunity) pemerintah dan pemangku kepentingan non pemerintah. Sambil menunggu sistem pemerintah dibenahi, lembaga Risbangda ini perlu untuk mensinergikan kekuatan-kekuatan dalam sebuah wilayah dan mempercepat, mengefisienkan, mengoptimalkan aktivitas pembangunan daerah. Sebenarnya, kita sekarang ini sudah cukup terlambat. Lembaga independen ini akan membantu menyelesaikan problem kelambatan akibat proses birokrasi yang panjang di jalur pemerintahan. Melalui lembaga ini potensi dan permasalahan daerah dipetakan bersama, kemudian dicarikan solusi pengembangan dan pemecahan bersama-sama. Pola ini akan mereduksi derajat kemlesetan sebuah program karena sejak awal dilakukan bersama. Melalui lembaga ini akan tercipta ruang-ruang untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi sebuah program atau solusi sebelum dituangkan dalam sebuah program. Lembaga ini akan menjadi mitra kerja Bappeda yang selama ini menjalankan fungsi riset, pengembangan dan perencanaan daerah.

Penutup

Kita hanya perlu mletik pager bukan leap frog yang memang mustahil kita lakukan.

*mletik pager = lompat pagar, biasanya dilakukan dengan memanjat dan menuruninya, bukan dengan melompatinya.

Add your comment

Your email address will not be published.