Apakah pilihan yang lebih banyak selalu yang terbaik? | Paradox of Choice

Jam makan siang datang dan akhirnya kita dapat waktu istirahat sebentar. Karena hari ini tidak membawa bekal, kita mengunjungi mal yang baru saja dibuka di daerah dekat kantor. Kita mengunjungi mal tersebut dan menanyakan petugas di sana. “Tempat makannya di mana?” kita bertanya. Petugasnya menunjukkan kita ke food court. Di food court tersebut, ada berbagai macam restoran dan semua terlihat enak. Sekarang waktunya untuk membuat keputusan. Apakah kita makan di tempat soto? tempat bakso? Atau mungkin kita ingin mencoba makanan western kali ini? Selagi berpikir dan mengitari food court, kita melihat handphone kita. Ternyata waktu istirahat sudah habis setengah; kita harus cepat memilih atau kita tidak akan ada waktu yang cukup untuk makan. Akhirnya kita pilih tempat ayam goreng fried chicken yang selalu ada di tempat – tempat seperti ini. Kita pesan paket yang kita biasa pesan. Kita duduk di meja yang selalu ada di cabang restoran ini. Lalu, kita makan siang sambil memikirkan betapa enaknya makanan – makanan yang kita bisa coba di restoran – restoran lain. Ini adalah suatu situasi yang dikenal banyak orang. Karena terlalu banyak pilihan, kita jadi bingung pilihan mana yang tepat. Ini adalah paradox of choice.

Mengapa ini adalah suatu paradoks? Inilah penjelasan yang diberi langsung oleh Barry Schwartz, sang penulis buku yang pertama membahas konsep paradox of choice. Pada dasarnya, manusia ingin kesejahteraan. Untuk mendapatkan kesejahteraan, kita harus mempunyai kebebasan. Untuk mendapatkan kebebasan yang lebih banyak, kita harus memiliki lebih banyak pilihan. Masuk akal bukan? Bila kita mempunyai banyak pilihan, pastinya kita lebih bebas dan kita akan lebih sejahtera. Nyatanya adalah bahwa pilihan yang lebih banyak tidak akan selalu membuat kita lebih sejahtera; pilihan yang terlalu banyak akan membawa kegelisahan. Inilah paradoksnya.

Saat membuat suatu keputusan, hal yang kita lakukan adalah untuk membandingkan segala alternatif terhadap tujuan yang ingin kita capai. Bila kita lapar, kita akan memilih alternatif – alternatif untuk menghilangkan kelaparan tersebut. Saat lapar, pilihan kita adalah, pertama, untuk makan atau tidak makan. Setelah itu kita akan memilih suatu makanan untuk memuaskan kelaparan tersebut. Bila kita sangat lapar kita bisa memilih makanan yang lebih banyak, bila hanya sedikit lapar kita bisa memilih makanan yang lebih sedikit. Satu alasan mengapa terlalu banyak pilihan akan membuat kita gelisah, adalah karena, di dalam pikiran kita, kita harus memikirkan segala alternatif (manfaat dan kerugiannya) dan membandingkannya terhadap tujuan kita. Memiliki terlalu banyak pilihan akan membingungkan kita; karena kita harus mengenal manfaat dan kerugian segala macam pilihan kita, dan membandingkan masing – masing manfaat dan kerugian tersebut terhadap tujuan kita. Kegelisahan tersebut kadang begitu besarnya, sampai kita lebih suka untuk tidak memilih. Menurut Barry Schwartz, inilah yang disebut paralysis atau kelumpuhan. Paralysis adalah salah satu konsekuensi dari memiliki terlalu banyak pilihan.

Bahkan bila kita dapat menghindari paralysis dan membuat keputusan dari begitu banyak pilihan, pilihan yang kita buat akan lebih tidak memuaskan dibandingkan kalau kita tidak mempunyai terlalu banyak pilihan. Ini dikarenakan opportunity costs yang terlibat dengan pilihan kita. Seperti contoh tadi, kalau food court yang dikunjungi hanya menyediakan fried chicken, maka mungkin dia akan cukup puas akan pilihannya. Tetapi karena juga tersedia tempat bakso, tempat soto, dan tempat makan western, maka selagi memakan fried chickennya, dia akan memikirkan kenikmatan yang bisa dia dapat kalau ia memilih untuk memakan soto atau bakso atau makanan western. Ini adalah opportunity costs. Karena ia memikirkan opportunity costs yang terlibat, maka akhirnya dia tidak akan menikmati pilihannya sebanyak kalau dia tidak memiliki banyak pilihan.

Selain itu, dengan begitu banyak pilihan, kita akan mempunyai ekspektasi yang lebih tinggi. “Kalau ada begitu banyak pilihan, yang dipilih pastilah yang sempurna”. Ini adalah pemikiran yang dimiliki oleh sebagian besar orang yang memiliki terlalu banyak pilihan. Tetapi, tidak ada hal yang di dunia ini yang sempurna. Pilihan yang kita buat adalah, bila kita membuat pilihan yang terbaik, “bagus” tetapi tidak pernah “sempurna”. Apa yang terjadi setelah ini adalah buyer’s remorse seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya; dua pemikiran yang kita miliki saling bertentangan dan karena itu kita merasa gelisah dan kurang puas.

Mempunyai banyak pilihan tidak selalu berarti lebih bagus, tetapi juga tidak selalu berarti lebih buruk. Seperti yang dikatakan sebelumnya, mempunyai pilihan berarti lebih banyak kebebasan, dan mempunyai kebebasan berarti orang tersebut akan lebih sejahtera. Mempunyai pilihan adalah sesuatu yang bagus, tetapi mempunyai terlalu banyak pilihan akan membuat kita gelisah. Jadi berapakah banyak pilihan yang kita harus sediakan? Bahkan sang penemu paradoks belum menemukan itu. Itu adalah sesuatu yang kita harus temukan sendiri.

 

Source:

https: www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM&user=TEDtalksDirector

Add your comment

Your email address will not be published.